CROWN-NEW-527x65 kartuking SARANA-728x90 simpatiqq mwtoto asuspoker

Bocah-Bocah Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng

Bocah-Bocah Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng. Banjarnegara- Sebanyak 12 bocah gembel ataupun anak gimbal Dieng menjajaki upacara ruwatan ataupun potong rambut gimbal dalam puncak Dieng Culture Festival 2018, Minggu, 5 Agustus 2018 kemarin. Tahun ini, seluruhnya berjenis kelamin wanita. daftar poker

Bocah-Bocah Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng – Mereka menempuh ruwat supaya rambutnya tidak lagi gimbal alias berkembang wajar, sebagaimana kanak- kanak yang lain. Upacara potong rambut ini dicoba cuma dapat dicoba atas permintaan sang anak. Juga, bocah gembel umumnya mempunyai permintaan yang wajib dipadati. Lalu rambut itu dilarung. saranacash

Bocah-Bocah Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng – Sebabnya, diyakini mereka merupakan titipan Nyai Dewi Roro Ronce yang ialah abdi ratu laut selatan, Nyai Roro Kidul, yang mendiami kawasan Dataran Besar Dieng. Rambut gimbal itu dilarung serta dipulangkan kepada pemiliknya. Daftar SBOBET

Bocah- bocah Gembel ini dititipkan oleh Nyari Roro Ronce kepada Kiai Kaladete ataupun Kolodete. Penguasa Dataran Besar Dieng, yang bagi legenda pendiri Wonosobo. Kiai Kaladete konon bersemayam di Telaga Balaikambang.

Karena itu, secara turun temurun, bocah gembel lebih dimanjakan oleh orang tuanya. Karena, diyakini dia bukan semata- mata anak, melainkan titipan dari penguasa alam lain Dataran Besar Dieng.

Dia dimanja. Seluruh permintaanya hampir senantiasa dipadati orang tuanya. Pendek kata, bocah gembel merupakan raja serta ratu untuk masyarakat Dieng serta keturunannya.

” Sebagian bulan yang kemudian, hari Jumat, sempat terdapat 3 turis perempuan memandang Telaga Balaikambang semacam istana. Siang hari,” kata Kepala Pelaksana Teknis( UPT) Dieng, Aryadi Darwanto, sebagian waktu kemudian.

Usai diruwat, rambut bocah gembel diyakini hendak berkembang wajar hingga berusia nanti. Hampir tidak sempat terdapat cerita anak gembel rambutnya kembali berkembang gimbal usai menempuh upacara potong rambut.

Tetapi, bagi Aryadi, terdapat pula anak gimbal yang rambutnya kembali menggimbal usai diruwat. Ceritanya, sang anak gimbal ini telah diruwat, pula dalam ajang Dieng Culture Festival, pada 2016. Dikala itu, dia memohon sepeda mini.

Usai diruwat, rambutnya lalu berkembang wajar seperti kanak- kanak yang lain. Namun, sebagian bulan sehabis diruwat rambut gimbalnya kembali berkembang.

Ceritanya, sesuatu hari, sepeda mininya rusak. Orang tuanya juga kembali membelikan sepeda dengan corak berbeda. Tampaknya, sang anak tidak terlampau bersemangat dengan sepeda barunya.

Tiba- tiba, sesuatu malam, sang bocah gembel panas besar. Keadaan yang hampir sama dikala rambut gimbalnya hendak berkembang awal kali. Dia juga dirawat oleh dokter.

Tetapi, panas badannya tidak kunjung turun. Sehabis melalui seminggu, sang bocah gembel ini sembuh dengan sendirinya. Belum lama dikenal, kembali timbul rambut gimbal di kepalanya.

” Itu jika yang tidak salah yang Cikampek. Anaknya bidan,” Ari menceritakan.

Terdapat pula cerita di luar nalar yang lain. Seseorang bocah gembel memohon diruwat dengan permintaan tertentu.

Tetapi, usai diruwat, rambut gembelnya senantiasa berkembang. Sehabis ditelisik oleh pemangku adat, dikenal kalau duit yang digunakan buat membeli benda sang anak berasal dari mbahnya, bukan dari orang tuanya.

” Permintaannya, jika wajib orang tua ya membeli ya wajib dengan duit orang tuanya. Tidak dapat digantikan duit dari mbahnya,” ia menuturkan.

Kebalikannya, terdapat pula cerita bocah gembel yang rambut gimbalnya luruh ataupun rontok sendiri saat sebelum diruwat. Cerita ajaib ini terjalin dikala sang bocah gembel memohon dibelikan sapi seberat satu ton.

Pasti, buat penuhi permintaan sang anak, orang tuanya berfikir keras. Menilik harga daging sapi yang melambung besar, dapat dibayangkan berapa jumlah duit yang mesti disiapkan sang orang tua.

Hampir masing- masing hari bocah gembel ini merengek. bukannya tidak ingin penuhi permintaan sang anak. Tetapi, mereka mesti menabung puluhan juta rupiah buat membeli seekor sapi seberat satu ton.

Seketika, tanpa alibi, sang bocah gembel menyudahi merengek. Dia tidak lagi memohon dibelikan sapi seberat satu ton.

” Setelah itu rambutnya itu jatuh sendiri. Tanpa dipotong,” Aryadi mengisahkan.

Cerita mistis yang lain dikisahkan oleh Kepala Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjaregara, Slamet Budiono. Semacam diucap di muka, rambut gimbal dipotong ataupun diruwat atas permintaan sang bocah gembel dengan prasyarat tertentu.

Namun, terdapat pula yang berupaya memotongnya tanpa ritual serta bukan atas permintaan sang anak. Sang orangtua berupaya memotong rambut gimbal anaknya tanpa ritual yang biasa dilakoni saat sebelum upacara pemotongan rambut.

Seketika, keanehan terjalin, dikala gunting didekatkan ke kepala, konon sang bocah gembel memelanting tanpa siuman. Gunting terlepas tanpa siuman kala sang orang tua, jatuh terlempar.

” Seketika guntingnya terpental. Anak itu langsung jungkir balik,” Slamet berkisah.

Bocah-Bocah Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng

Facebook Comments
Share Button