CROWN-NEW-527x65 kartuking SARANA-728x90 simpatiqq
EBOBET ASUSPOKER EBOTOTO

Cerita Horror Seseorang Yang Tersesak di Tengah Kuburan

Cerita Horror Seseorang Yang Tersesak di Tengah Kuburan

Simpatiqq – Memang harusnya, kita permisi setiap kali melewati atau masuk area pemakaman, harus menghormati “penghuni” di dalamnya. Nah, gw punya pengalaman ketika “tersesat” di satu makam legendaris di Cilegon Banten, Makam Balung namanya. Hanya di sini, di Briistory.

Kenapa namanya Makam Balung? ada sejarahnya.
Jadi, menurut informasi yang beredar, makam balung ini dulunya emang untuk memakamkan tulang belulang, tulang-tulang manusia yang diangkat dari pemakaman sebelumnya yang entah alasan pastinya apa pemakaman itu harus dipindahkan.
Katanya sekitar tahun 1970an atau 1980an, gw gak tau pastinya, banyak pemakaman di Cilegon yang digusur dan harus dipindahkan ke tempat baru.
Salah satu pemakaman yang dipindahkan yang gw tau adalah pemakaman besar di suatu kampung terpaksa harus pindah karena kampung beserta semua makamnya digusur untuk pembuatan waduk, namanya waduk Krenceng.
Kenapa gw tahu? karena waduk Krenceng ini letaknya gak jauh dari desa Ramanuju, desa tempat gw lahir dan beranjak besar. Sayangnya waduk krenceng ini udah ada jauh sebelum gw dilahirkan, jadi gw gak mengalami proses pembuatannya.

Cerita Horror Seseorang Yang Tersesak di Tengah Kuburan

Gw cuma dengar cerita dari orang tua dan penduduk asli sekitar waduk itu.
Nah, wilayah waduk ini dulunya adalah pemukiman yang terdiri dari beberapa desa, tentu saja di dalamnya ada pemakaman.
Seperti yang gw bilang tadi, akhirnya penggusuran terpaksa dilakukan terhadap desa-desa itu untuk dialihkan fungsi wilayahnya menjadi waduk, termasuk juga pemakaman-pemakaman yang ada, dipindahkan juga.
Pemakaman-pemakaman ini mau gak mau harus diangkat dan dipindahkan ke tempat baru, tempat baru inilah yang nantinya dinamakan makam balung.
Begitu sejarahnya, kalo ada teman-teman dari Cilegon yang mau koreksi atau menambahkan dipersilakan.
kali ini, gw akan cerita tentang pengalaman seram yang gw alami sendiri di makam balung.

Ali, teman dari masa kecil gw, sudah sering namanya gw sebut di banyak cerita, ya karna banyak petualangan seru yang kami alami dari kecil sampai sekarang.

Gw dan Ali sejak lahir udah bertetangga, tapi rumah kami gak bersebelahan langsung, berselang dua rumah, dekat. Di desa Ramanuju kami tinggal waktu itu, desa yang banyak menyimpan cerita seru dan seram.
Kali ini gw akan cerita satu pengalaman seram yang gw alami bareng Ali. Kejadiannya kalo gak salah ketika masih kelas satu SMP. Sudah lama, tapi tenang aja, gw masih ingat setiap detail peristiwanya.
“Brii, main ke rumah Robi yuk. Udah lama gak main ke sana.” Begitu kata Ali, pada suatu sore.
Jadi, Gw dan Ali ini beda sekolah, beda SMP. Nah, Robi ini temannya Ali di sekolahnya, tapi gw udah kenal sebelumnya.
Rumah Robi gak satu desa dengan kami, dia tinggal di desa lain yang jaraknya cukup jauh, Tegal Cabe namanya. Yha, tegal cabe ini bersebelahan dengan Makam Balung, pemakaman umum yang gw sebut di awal tadi.
Jarak rumah kami ke rumah robi sekitar 30-45 menit bersepeda, cukup jauh, tapi perjalanannya seru, melewati sawah, kebun, perkampungan, eh ada waduk juga.
Tahun 90-an, daerah situ masih sangat sepi, gak sepadat sekarang, masih banyak lahan-kosong dan desa yang sedikit penduduknya. Jadi benar-benar masih sepi, masih kampung.
Pada akhirnya gw mengiyakan ajakan Ali untuk main ke rumah Robi. Rencananya kami akan berangkat setelah pulang sekolah.
Entah ini akan menjadi kunjungan yang ke berapa kali, tapi yang pasti bukan yang pertama, jadi gw masih sangat hafal perjalanan ke rumah Robi.

Sore yang cerah, masih jam tiga gw dan Ali sudah berada di atas sadel sepeda masing-masing, menyusuri jalan tanah membelah perkampungan, menembus kebun kelapa, menyusuri jalan di pinggir waduk, menuju rumah Robi.
Terus menggowes pedal tanpa lelah, angin sore menemani keceriaan kami yang bergerak bersepeda dengan riang gembira. Matahari yang belum terlalu bersandar di ufuk barat, masih terik bersinar walau sudah cenderung hangat.
Beneran, waktu kecil gw suka banget bersepeda, nyaris ke mana aja selalu bersepeda, BMX silver kesayangan selalu menemani.
Begitu juga kali ini, karena perjalanan ke rumah Robi agak memakan waktu, tapi gw senang-senang aja menjalaninya.

Sudah nyaris jam empat ketika kami perlahan melambatkan kecepatan, dan akhirnya berhenti di depan satu gapura tembok lusuh berwarna putih kusam.
“Gimana? Lewat sini apa muter?” Tanya gw kepada ali.
Kami diam berhenti di depan gapura itu, gapura yang menjadi tanda sebagai pintu masuk ke pemakaman, pemakaman besar yang sudah sering kami dengar keangkerannya.
Iya, kami berdiri tepat di depan gapura Makam Balung.
“Masih sore, masih terang, lewat makam aja.” Begitu jawab Ali.
Memang, untuk mempersingkat perjalanan menuju rumah Robi, kami harus masuk melewati pemakaman besar itu, walaupun bisa saja kami memilih jalan memutar untuk menghindarinya.
Tapi kalau berputar, waktu yang harus ditempuh tambah lama, karena berputarnya cukup jauh. Ya sudah, akhirnya kami memutuskan untuk masuk menembus Makam balung, karena masih sore dan terang.
Makam balung ini keadaan dan situasinya nyaris sama dengan pemakaman umumnya. Banyak pohon besar di dalamnya, rindang menghalangi sinar matahari untuk masuk menerangi. Banyaknya pohon ini menjadikan suasana di pemakaman jadi gak terlalu terang, walaupun masih siang.
Tapi, tipikal pemakaman umum yang letaknya bukan di kota besar, letak makamnya gak beraturan, masih acak-acakan, barisannya gak rapih baris berjajar.
Acak-acakan.
Sekarang juga situasinya masih nyaris sama, karena baru beberapa bulan yang lalu gw datang ke Makam Balung ini, Tante Erni yang belum lama meninggal dimakamkan di sini juga.
Sama seperti anak-anak lain pada umumnya, gw dan Ali juga merinding ketakutan ketika harus masuk ke areal pemakaman. Mangayuh sepeda dengan cepat namun tetap hati-hati karena harus cekatan menghindari gundukan tanah kuburan yang letaknya gak beraturan.
Keangkeran pemakaman sangat terasa, ditambah situasinya yang sangat sepi, gak ada orang sama sekali, hanya suara putaran ban sepeda kami yang mendominasi ruang sunyi ini. Benar-benar sepi.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali wangi bunga kamboja tercium pekat, wangi khas bunga pekuburan.
Kami yang tadinya jalan sambil bercanda bersenda gurau, di dalam pamakaman jadi terdiam, fokus bersepeda memperhatikan jalan untuk cepat-cepat keluar dari areanya, pergi meninggalkan keangkerannya.
Makam Balung ini cukup luas, kami harus bersepeda beberapa menit lamanya dari masuk sampai keluar.
Agak bernapas lega, ketika di kejauhan kami sudah melihat gerbang keluar.
Tapi, gw yang berjalan di depan, tiba-tiba menghentikan sepeda, ngerem mendadak, karena melihat sesuatu.
“Ada apa sih Brii? Hampir nabrak nih saya.” Sungut Ali di belakang.
“Kok tiba-tiba ada rumahya Li? Kayanya waktu itu gak ada rumah deh, kok sekarang ada rumah?” Gw banyak tanya.
Iya, gw ngerem mendadak karena melihat ada pemandangan yang menurut gw aneh, ada rumah yang berdiri agak di pinggir makam.
Kenapa aneh, karena perasaan gw belum pernah melihat ada rumah ini sebelumnya.
Kami berhenti beberapa belas meter dari rumah itu. Rumah yang dapat dipastikan kosong, karena terlihat gak terurus. Semak dan rumput liar tumbuh tinggi di sebagian besar halamannya, cat putihnya kelihatan kusam, satu atau dua kaca jendelanya pecah, gentengnya gelap berlumut.
Kami sangat yakin kalau ini rumah kosong, sudah lama kosong.
“Ah itu rumah dari dulu udah ada Brii, kamu aja yang gak pernah perhatiin.” Begitu jawab Ali.
“Udah ah, yuk jalan lagi. Serem gitu rumahnya.” Lanjut Ali.
Tapi masak sih gw gak pernah sadar kalau ada rumah di sini? Ah mungkin aja Ali benar, emang gw gak terlalu perhatian, gak sadar kalo ada rumah kosong di makam balung ini. Mungkin aja..
Ya sudah, gw ikut omongan Ali, lalu kami melanjutkan perjalanan ke rumah Robi yang sudah gak jauh lagi.
Akhirnya, kami berhasil lewat area pemakaman, lalu masuk ke wilayah kampung tempat tinggal robi.
Gak lama kemudian kami tiba di rumahnya. Robi menyambut dengan gembira, setelahnya kami terlibat perbincangan seru khas anak-anak.

Kenapa gw senang setiap kali main ke rumah Robi? Karena rumahnya sangat nyaman. Rumah utama gak terlalu besar, tapi punya halaman luas gak berpagar, hanya dibatasi oleh beberapa pohon dan barisan tanaman anak nakal.
Lingkungannya pun waktu itu benar-benar masih kampung, masih sepi, biasanya menjelang maghrib semakin sepi, hanya kelihatan orang-orang yang berbondong-bondong ke mushala untuk sholat berjamaah, selebihnya sepi.
“Eh eh, kalian tadi lewat mana? Makam balung apa muter?” Tiba-tiba Robi tanya seperti itu.
“Makam balung Bi, kalo muter kan jauh. Masih terang ini tadi.” Jawab gw.
“Jangan lewat makam balung dulu ya.” Kata Robi Lagi.
“Kenapa emang Bi?” Ali penasaran.
“Lagi musim anak ilang, trus ketemunya subuh di makam balung, lemes.” Kata Robi.
“Ilang gimana sih Bi?” Tanya gw semakin penasaran.
“Iya ilang aja, katanya diculik kalong wewe atau gondoruwo gitu. Terakhir kemarin anak yang tinggal di rumah itu, ilang pas udah isya, ketemu-ketemu subuh di makam balung.” Jawab Robi sambil menunjuk ke satu rumah yang terlihat di kejauhan.
Ya gitu, jadi menurut Robi, sedang ada keresahan di kampungnya, sudah beberapa kali ada anak kecil yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak ketika main di luar rumah pada malam hari, hilang gitu aja. Sampai akhirnya ditemukan dalam keadaan lemas di satu sisi Makam Balung.
Menurut cerita anak-anak yang hilang itu setelah ditemukan, katanya mereka kesasar ketika masuk ke dalam makam balung, gak menemukan jalan keluar.
Kata orang-orang kampung, anak-anak ini kemungkinan besar diculik kalong wewe atau gondoruwo, rumor yang beredar begitu. Tapi pada intinya, anak-anak ini hilang selama berjam-jam walau akhirnya ditemukan juga.
Gw dan Ali cukup ketakutan mendengar cerita itu. Untung aja tadi gak terjadi apa-apa ketika kami melintas lewat pemakaman makam balung.
“Nanti pulangnya jangan malam li ah, sebelum maghrib kita pulang.” Gw lempar usul ke Ali. Ali tentu saja setuju.
“Iya, nanti pulangnya jangan malem-malem” Robi menegaskan lagi.
Benar-benar cerita yang menyeramkan.

Tapi ya dasar anak-anak, saking keasikannya bermain, gw dan Ali belum pulang juga sampai maghrib tiba.
“Sholat maghrib dulu, abis itu baru boleh pulang.” Begitu kata Ibunya Robi.
Mau gak mau kami harus nurut.
Akhirnya malah berubah lagi, selepas isya kami baru pulang.
Malam sudah beranjak larut, bulan mengintip malu-malu dari sela pepohonan, hanya gelap pekat yang jadi pemandangan, ketika kami akhirnya berpamitan.
“Inget ya, jangan lewat makam balung, jalan putar aja.” Sekali lagi Robi mengingatkan.
Gw dan Ali mangangguk.
Walaupun harus melewati jalan berputar cukup jauh, tapi kami akan tetap menjalaninya, gak berani kalau harus lewat menembus area makam balung malam-malam seperti ini, gak mau, takut.

Kayuhan pedal memutar roda sepeda secara konstan, menyusuri jalan kampung memutar mengitari makam balung, jalan yang jarak dan waktu tempuhnya lebih lama dan jauh.
Kami masih berbincang bersenda gurau menikmati perjalanan.
Perkampungan sudah sangat sepi, nyaris gak kelihatan ada orang di luar rumah. Tapi memang biasanya seperti ini, dan mungkin saja ditambah dengan adanya peristiwa anak hilang, jadi tambah sepi aja.
Beberapa kali kami melewati lahan kosong yang isinya hanya pohon-pohon besar, gak ada lampu sama sekali, gelap pekat memenuhi semua sisi. Setiap lewat lahan kosong itu kami otomatis terdiam gak bersuara.
Kami semakin diam tanpa perbincangan ketika mulai menyadari ada yang aneh.
Waktu tempuh yang seharusnya gak terlalu lama, mungkin hanya 10 menit, tapi kira-kira sudah lebih dari 15 menit kamibelum sampai juga di kampung berikutnya, seperti masi berkutat di kampung Robi.
Gw yang berjalan di depan, sesekali melirik belakang untuk melihat Ali.
Wajah Ali menunjukkan raut kebingungan, sama seperti gw, bingung, kok lama amat perjalanan berputar ini?
Akhirnya gw berhenti, Ali ikut berhenti.
“Kok gak sampe-sampe ya Li? Apa tadi ada salah belok?” Tanya gw.
“Udah lanjut aja dulu, ini jalannya bener kok.” Jawab Ali menenangkan.
Ya sudah, kami lanjut jalan.
Tetap saja, udah beberapa menit tambahan, kami belum juga meninggalkan kampung, sepertinya kami berputar-putar saja di tempat yang sama.
Sesekali gw melirik belakang sambil terus mengayuh, untuk melihat keadaan Ali, memastikan kalau dia masih ada di belakang.
Gw mengayuh sepeda semakin cepat, ketika sadar sudah beberapa saat lamanya kami gak melihat ada rumah di kanan kiri, hanya kelihatan lahan kosong yang diisi pepohonan.
Suara gerakan dua sepeda menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di malam gelap ini.
Di titik ini, gw mulai ketakutan, rasa cemas mulai menyeruak memenuhi isi kepala. Kenapa kami gak sampai-sampai di ujung kampung?
Terus dan terus gw memacu sepeda dalam kecemasan, menyusuri jalan tanah di dalam gelap, sebegitu cemasnya sampai gw gak sadar kalau ada yang aneh, ada yang berbeda.
Gw ngerem mendadak, menghentikan laju sepeda yang tengah berlari cepat.
Panik, kaget, terkejut, ketika menoleh ternyata gak ada Ali di belakang, Ali menghilang!
Ternyata gw sendirian, entah sudah berapa lama.
Gw semakin cemas, ketakutan.
“Aliiii..” Coba memanggil Ali, namun gak ada jawaban.
Takut, karena sadar kalau sedang sendirian di tempat asing dan menyeramkan, akhirnya gw memutuskan untuk kembali mengayuh sepeda dengan tujuan entah ke mana.
Beberapa detik setelah kembali mengayuh, tiba-tiba mendengar sesuatu. Ada suara yang sumbernya seperti gak jauh di belakang.
Buk, buk, buk, buk..
Kira-kira seperti itu bunyinya, seperti suara langkah kaki yang sedang berlari.
Awalnya karena sangat ketakutan, gw gak berani untuk menoleh ke belakang, gak berani cari tahu bunyi apakah itu.
Tapi akhirnya rasa penasaran mengalahkan segalanya, sambil terus mengayuh sepeda gw menoleh dan melirik ke belakang.
Tahu apa yang sedang ada di belakang gw?
Gw melihat ada mahluk tinggi besar hitam berlari mengikuti, dalam gelapnya malam gw masih bisa melihat jelas bentuk mahluk itu, sosok tinggi besar yang menyeramkan.
Panik, gw semakin cepat mengayuh sepeda, melaju kencang sambil ketakutan.
Saking ketakutannya sampai-sampai gw gak sadar kalau sudah masuk ke wilayah yang sudah gw kenal, wilayah yang baru sore tadi gw melintasinya bersama Ali.
Gw nyaris jatuh dari sepeda ketika tiba-tiba melindas gundukan tanah, melindas gundukan tanah kuburan.
Ternyata gw masuk ke area pemakaman yang masih gw kenal, makam balung. Kenapa tiba-tiba masuk ke pemakaman? Entahlah..
Dalam gelap gw memacu sepeda dengan kencang, dengan maksud meninggalkan cepat-cepat tempat menyeramkan ini.
Awalnya gw masih lincah menghindari gundukan-gundukan tanah kuburan, tapi lama kelamaan gak sanggup lagi, beberapa kali gw melindas kuburan tanpa sengaja.
Sampai akhirnya gw kehilangan keseimbangan, lalu jatuh dari sepeda..

Rasa sakit akibat terjatuh, tertutup oleh rasa takut yang membuncah hebat memenuhi isi kepala.
Sendirian dalam gelap malam di tengah pemakaman angker.
Semakin ketakutan lagi, ketika melihat sosok tinggi besar dan menyeramkan yang sejak tadi terus mengikuti, dia berdiri gak jauh dari gw yang sedang duduk meringis di samping sepeda.
Sosok itu hanya berdiri diam dalam gelap seperti memperhatikan.
Gw ketakutan, lalu berdiri dan coba berlari, meninggalkan sepeda tergeletak di samping kuburan.
Sepertinya gak lama gw berlari, sampai akhirnya melihat ada bangunan di kejauhan, ada rumah. Lalu gw menuju ke rumah itu, coba menjauhi mahluk tinggi besar.
Ternyata, gw mengenali rumah ini, ini adalah rumah kosong yang gw lihat bserama Ali sore tadi.
Tapi keadaannya beda, rumah ini jadi kelihatan lebih bersih dan terawat. Lampu terasnya menyala walau redup, lampu di dalamnya juga menyala terang. Jadi seperti berpenghuni..
Gw terus berlari menuju rumah itu, sampai akhirnya sampai di terasnya.
Teras dan pekarangan rumah sungguh bersih, tapi gw yakin kalau ini rumah yang sama dengan yang sore tadi.
Ah gak ambil pusing, gw tetap mau masuk untuk menghindari mahluk tinggi besar menyeramkan yang sejak tadi mengejar.
Kebetulan, pintu depannya terbuka, sambil ketakutan gw memasukinya.
Setelah sudah berada di dalam, gw duduk di kursi ruang tamu, napas masih ngos-ngosan sambil sesekali melihat keluar khawatir mahluk itu masih saja mengejar.
Ternyata nggak, gw gak melihat mahluk itu lagi.
Sudah sedikit lega, sambil menenangkan diri dan mengatur napas, gw memperhatikan isi rumah ini.
Dari tempat gw duduk, gw bisa melihat ruang tengah yang sepertinya jadi ruang makan juga, lampunya menyala terang.
Di ruang tengah ada meja kayu besar dikelilingi beberapa kursi, di atas meja ada beberapa piring yang berisi makanan.
Tapi ada keanehan yang baru gw sadar, kemana para penghuni rumah ini? Karena dari tadi gw sama sekali gak melihat ada kehidupan.
Sepinya seperti gak berujung, cekamnya seperti gak akan ada akhir, perlahan rasa takut kembali memeluk erat.
Gw ketakutan, sepertinya ini bukan rumah biasa.
Seperti terhipnotis, ketika berikutnya indera penciuman menangkap aroma khas. Gw mencium wangi bunga Kamboja, bunga khas pemakaman.
Wanginya sangat kuat..
Gw yang sudah sangat ketakutan, semakin terkesima lagi ketika beberapa saat kemudian melihat ada pergerekan di ruang tengah.
Tiba-tiba, di ruang tengah gw melihat ada beberapa sosok yang sepertinya satu keluarga, ada bapak, Ibu, dan dua anak, laki-laki dan perempuan.
Entah mereka muncul dari mana tiba-tiba sudah ada berdiri mengelilingi meja makan, lalu duduk di kursinya masing-masing, seperti hendak makan malam bersama.
Gw terus diam memperhatikan,
Siapa Mereka?
Sampai akhirnya, sosok yang gw pikir itu adalah Ibu dari anak-anaknya, menoleh dan menatap gw beberapa saat lamanya, sambil tersenyum.
Ibu itu rambutnya panjang hitam tergerai, mengenakan pakaian terusan berwarna gelap.
Gw hanya diam terpana ketakutan.
Kemudian sosok Ibu itu berdiri dari duduknya, lalu bergerak meninggalkan meja makan.
Dia berjalan ke tempat gw duduk di ruang tamu.
Sebentar, ternyata dia bukan berjalan, dia bergerak seperti melayang..
Semakin dekat jarak kami, semakin jelas pula gw dapat melihat penampilan sosok Ibu ini.
Wajahnya menyeramkan, pucat tanpa ekspresi, tersenyum tapi menakutkan.
Dia terus mendekat dan mendekat..
Gw semakin ketakutan, sangat ketakutan.
Sampai akhirnya dia berhenti tepat di depan gw, lalu mengulurkan tangannya.
Gw panik, tapi gak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa kemudian menunduk dan menangis pelan..
Setelah itu gw gak ingat apa-apa lagi

“Brii..!, Brii..!”
Entah pingsan atau bagaimana, akhirnya gw seperti tersadar, karena mendengar ada beberapa orang yang memanggil nama gw.
Gw membuka mata, ternyata sedang berada di dalam rumah kosong yang gelap gulita.
“Di siniii..!!” Gw teriak, berharap orang-orang di luar mendengar.
Gak lama kemudian, beberapa orang masuk ke dalam rumah. Lalu gw akhirnya sadar kalau beberapa orang itu salah satunya adalah Bapak.
Sukurlah, akhirnya gw dapat keluar dari terror yang menyeramkan itu.

Jadi, menurut cerita Ali, ketika pulang dari rumah Robi itu, tiba-tiba gw mengayuh sepeda dengan cepat sampai-sampai Ali ketinggalan dan kehilangan gw.
Kata Ali, gw masuk ke area Makam balung, dan menghilang di kegelapan.
Ali gak berani masuk sendirian ke Makam balung untuk mencari gw, dia memutuskan untuk pulang dan mencari pertolongan, memberi kabar kalau gw hilang di makam balung.
Setelah itu, Bapak gw dan beberapa tetangga langsung pergi mencari, sampai akhirnya gw ditemukan jam satu tengah malam di dalam rumah kosong itu.

Cukup sekian cerita kali ini, kisah petualangan seram #briikecil yang badungnya gak terkira.
Sampai jumpa dengan cerita-cerita gw lainnya.
Tetap sehat supaya bisa terus merinding bareng.

Agen Poker
Situs Poker
Poker Online
Pokerace
Poker99
Dewapoker

Facebook Comments
Share Button
crownsbo303.com- Selamat Datang Di crownsbo303.net Situs Online Agen Judi Bola Terpercaya
Agen Bola Tepercaya Situs Judi Online Casino Online Daftar SBOBET Daftar Judi Online Agen Judi Online Agen Bola Tepercaya Main Casino Online Uang Asli Crown303 daftar poker online