CROWN-NEW-527x65 kartuking SARANA-728x90 simpatiqq mwtoto asuspoker

Cerita Misteri Hutan Ladang Karet

images (1)

Dua bulan telah berlalu.

Masih menjadi pertanyaan terbesar di dalam hatiku, tentang siapakah gerangan yang telah membawaku pergi dari parit pembatas jalan hingga ke gerbang halaman depan rumah kakek ku.

Tentang siapakah yang melempari rumah kakekku di malam itu? Dan makhluk apakah yang telah mengejarku di malam itu? Itulah yang masih menjadi pertanyaanku hingga saat ini.

Hari ini adalah hari sabtu, aku sengaja datang kembali menuju desa kakek ku di malam yang sama, hanya saja waktunya berbeda. Kali ini aku ditemani oleh dua orang teman dekatku, yaitu Mardian dan Logi. Kami adalah teman sekampus, namun berbeda jurusan. Kedua temanku itu adalah anak Criptozology, sedangkan aku adalah anak Teknic Visual di kampus kami.

pokerace99
agen poker

Mardian dan Logi, mereka berdua sepertinya sangat penasaran sekali mendengar ceritaku mengenai cerita makhluk aneh yang telah mengejarku di kebun karet sekitar dua bulan yang lalu. Hingga merekapun mengajakku kembali untuk datang ke desa kakek ku dan menginap di sana sekitar satu minggu.

Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan sampai membawa beberapa alat canggih hanya untuk meneliti makhluk aneh yang telah aku ceritakan kepada mereka tersebut. Sakin gilanya dua orang temanku itu, mereka bahkan sampai membeli dua senjata ilegal untuk dijadikan senjata keamanan kami.

Sebenarnya aku tidak tertarik, karena kejadian dimalam itu benar-benar telah membuat aku menjadi traoma. Namun mereka terus mendesakku, sebab tidak enak hati karena mereka adalah teman nongkrong satu mejaku di kampus maupun di rumah, yah mau tidak mau aku harus membantu mereka. Dan bahkan mereka juga menggodaku dengan iming-iming untung yang besar.

daftar poker
poker online indonesia

Bayangkan Ray, jika penelitian kita ini berhasil, maka kita akan mendapatkan untung milyaran Rupiah, dan itu akan kita bagi tiga. Kerjaan kau hanya duduk untuk menemani kami selama penelitian berlangsung. Kau juga bisa membuat konten youtube di sana, bayangkan jika kau berhasil merekam makhluk tersebut, berapa juta viewer yang akan menontonnya? Kau adalah satu-satunya saksi mata yang pernah bertemu dengan makhluk yang biasa di sebut orang pedesaan dengan “Tiha”, oleh sebab itu, kau harus membantu kami, Ray.

Tiha, adalah salah satu jenis makhluk mitology yang sering menjadi buah bibir bagi masyarakat di sekitar sana. Ada yang mengatakan bahwa Tiha ini adalah makhluk yang besar, tinggi, berbulu lebat, hitam, dan punya telapak kaki seperti manusia, namun telapak kakinya terbalik alias tumitnya di bagian depan.

Yah, baiklah, setelah berpikir-pikir akhirnya akupun memutuskan untuk ikut membantu dua orang temanku tersebut. Dan keputusan itulah yang kini telah membuat aku duduk di bangku belakang didalam mobil hitam milik Mardian. Kami sedang dalam perjalanan untuk menuju rumah kakekku.

Sebelum berangkat, aku sempat menelepon pak Witan salah satu teman ayahku yang rumahnya tidak jauh dari rumah kakekku, dan beliaupun bersedia untuk menemani kami selama satu minggu waktu penelitian berlangsung.

judi online
poker online uang asli

Satu jam perjalanan dari kota, kamipun tiba di lokasi. Nenek dan Kakekku sudah menunggu di depan halaman rumah dengan senyum yang hangat. Kamipun segera turun dan bergegas memindahkan barang-barang ke dalam rumah.

Tidak lama kemudian, Pak Witan pun tiba dengan motor trailnya. Beliau tersenyum menyapaku dan juga teman-temanku. Kami berbicara beberapa hal tentang masa kecilku. Dan beliau juga bertanya tentang kabar ayahku.

Kata beliau, dulu ayahku adalah seorang pemburu babi yang handal. Dan ayahku juga pernah menyelamatkan nyawa pak Witan dari serangan beruang madu dengan golok, alhasil beruang itupun tewas di tempat ditebas oleh ayahku.

Benar-benar cerita yang luar biasa, karena aku belum pernah mendengar ayahku bercerita tentang berburu kepadaku. Kenapa ya? Apakah ayahku tidak mau aku mengikuti jejaknya menjadi tukang buru? Atau? Hmm entahlah, kenapa pula aku tiba-tiba memikirkan tentang hal tersebut.

Kembali ke cerita.

Malam telah tiba. Pak Witan pulang ke rumah beliau sebentar untuk menukar baju dan mengambil perlengkapan senjata.

Menurut cerita masyarakat setempat, akhir-akhir ini selama musim hujan tiba, sering terdengar suara aneh yang mengaum dari dalam kebun karet. Sakin parahnya lagi, sudah pernah ada kejadian seekor kerbau penduduk yang hilang, setelah beberapa hari dicari ternyata kerbau tersebut didapati sudah hancur dan dicabik-cabik di pinggiran sawah.

Salah satu warga juga pernah mengaku bertemu dengan makhluk tersebut di malam hari saat ia hendak pergi ke sumur, dan makhluk itu tengah asyik mengincar kambing miliknya. Namun makhluk itu terlihat takut dan berlari kedalam hutan kebun karet yang luasnya mungkin puluhan atau bahkan ratusan hektare. Aku tidak tahu pasti.

Kata nenekku, akhir-akhir ini kami sering mendengar anjing-anjing penjaga ladang ribut di sekeliling desa, sepertinya anjing-anjing tersebut sedang mengejar sesuatu. Namun kami tidak tahu pasti makhluk apakah itu.

Namun ada pula yang mengatakan bahwa makhluk itu tidak menyerang manusia, makhluk itu adalah salah satu jenis kera besar, namun mereka belum tahu pasti kera jenis apakah makhluk tersebut. Mendengar berbagai cerita tersebut, dua orang temanku ini bukannya takut akan tetapi malah semakin bersemangat dan tidak sabar untuk melihatnya secara langsung. Gila, nekat sekali mereka.

Beberapa menit telah berlalu, kini pak Witan telah kembali menggunakan motor trailnya. Kali ini beliau tidak sendirian, beliau juga membawa tiga ekor anjing jantan milik beliau. Akhirnya si hitam dan si kuning pun menemukan teman-teman mereka.

Selepas sholat isya berjama’ah, kami semua duduk di teras rumah kakek ku. Kami mengadakan sedikit diskusi kecil mengenai strategi kami di malam ini. Apakah kami harus mendirikan tenda langsung di ladang karet? Dan ataukah kami hanya menunggu di rumah kakek ku. Akhirnya kamipun sepakat, untuk malam pertama dan kedua, kami akan mencoba untuk menunggu di rumah kakekku.

Kami berbagi tugas, dua orang yang jaga di luar, dan dua orang tidur di kamar. Aku dan Logi adalah orang yang pertama tidur di kamar, sementara Pak Witan dan Mardian berjaga di luar.

Jam sudah menunjukkan pukul 21:06 malam. Aku mulai memejamkan mata, karena pukul 01:00 dini hari, giliran aku dan Logi lagi yang akan berjaga-jaga.

Di malam pertama itu, tidak ada yang mencurigakan. Semuanya terlihat biasa-biasa saja. Angin malam berhembus, kabut turun menyelimuti hutan dan desa, dan rintik hujan pun tidak kelihatan sama sekali. Nihil.

Berlanjut ke malam yang kedua.

Sesuai jadwal, aku dan Logi mengambil jatah istirahat terlebih dulu, sementara Pak Witan sama Mardian adalah orang yang pertama berjaga.

Jam telah menunjukkan pukul 01-00 dini hari, belum lewat satu menit pun Mardian kini sudah membangunkan kami tepat waktu. Aku dan Logi pun mulai berjaga-jaga sambil menyeduh kopi hangat.

Kami berbincang-bincang santai membicarakan makhluk tersebut di teras rumah. Sementara 5 ekor anjing milik Pak Witan dan Kakek ku asyik berbaring-baring di lantai teras.

Embun malam mulai turun perlahan berhembus ditiup angin. Kilatan cahaya petir di balik gunung seberang sana juga sudah mulai terlihat, namun tidak ada bintang yang nampak di langit, semuanya masih terlihat gelap, dan sepertinya sebentar lagi hujan akan segera tiba. Begitulah tebakanku.

Jam sudah mennujukkan pukul 02:35 dini hari. Renyai-renyai gerimis kecil sudah mulai jatuh terdengar lembut dengan perlahan menghantam atap seng rumah. Udara benar-benar terasa dingin. Logi bahkan sampai menaruh tangannya di dalam saku jacket.

Memecah keheningan, akupun kembali membuka pembicaraan.

“Gi, kamu tau gak apa yang bikin aku takut kepada makhluk tersebut?” Aku bertanya pada Logi.pokerdewa
main poker online uang asli
Logi hanya menggelengkan kepala sembari memicingkan bibir, tidak tahu.

“Makhluk itu menyeramkan. Dia punya dua taring yang panjang, bahunya berduri, kukunya panjang, dan lebih parah lagi kepalanya bertanduk seperti genderuwo yang terlihat di film horor.”

“Aku heran, aku yang pernah ketemu dia aja takut, tapi kau sama Mardian malah gak sabar ingin melihatnya, kalian benar-benar gila, Gi” begitu kataku.

Logi malah tertawa kecil.
“Bukannya gitu Ray, kami juga punya rasa takut, tapi itulah pekerjaan kami anak Criptozology, meneliti keberadaan makhluk-makhluk aneh seperti yang kau ceritakan itu, Ray” begitu terang Logi padaku.

pokerace99
agen poker
daftar poker
poker online indonesia
poker online
IDN poker
judi online
poker online uang asli
pokerdewa
main poker online uang asli
ceme online

Facebook Comments
Share Button