CROWN-NEW-527x65 demenqq dwoqq gadingpoker-728x90 kartuking mncqq SARANA-728x90 Sentosapoker SENTULPOKER-728x90 simpatiqq aseanpoker

Cerita Mistis Keranda Bambu Angker pemanggil Kematian

Cerita Mistis Keranda Bambu Angker pemanggil Kematian

Cerita Mistis Keranda Bambu Angker pemanggil Kematian.Uji upgrade kelas selesai. Seminggu kemudian melaporkan nilai kerja keras selama satu tahun terbagi. Terima kasih! Saya dan teman-teman di sekolah akhirnya bisa naik kelas tiga.

Liburan panjang satu bulan, seperti yang diumumkan oleh guru wali kelas saya, adalah sesuatu yang sangat menyenangkan tapi bisa membosankan jika hanya menghabiskan waktu di rumah.

Untunglah, Topan teman sekelas saya membawa saya ke tempat kakeknya di sebuah dusun di lereng Gunung Slamet. Tentu undangan yang saya terima dengan senang hati.

Memang, saya sudah lama ingin pergi ke gunung. Merasa kurang afdol jika Anda pergi bersama, Rudi mengajak tetangga, Doni. Saya juga mengenalnya meski tidak begitu akrab.

Pada hari yang ditentukan kami bertiga berangkat. Hari telah tiba di Randu. Cukup ramai karena basis transportasi berdekatan dengan pasar. Senyum Doni tampak melebar saat melihat beberapa kios yang menjual kupon perjudian Togel.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui jalan tanah yang tidak begitu lebar dan sedikit memanjat sepanjang 500 meter. Jalan sepi dan sejuk dengan sungai yang mengalir cukup deras di sisinya.

Sedikit di dalam dan sedikit dari jalan dipukuli ada sebuah desa atau mengatakan sebuah kota kecil. Peregangan sawah, waktu dan kebun lainnya. Meski pada saat itu listrik masuk ke desa, tapi saya hanya melihat beberapa rumah yang sudah terpasang itu, gunakan petromak atau teplok tepian lainnya.

Cerita Mistis Keranda Bambu Angker pemanggil Kematian. Kami diterima dengan baik oleh Mbah Suban, kakek Rudi yang tinggal bersama Qom Darul. Meski Qom Darul agak paman Typhoon, namun usianya tidak jauh beda dengan kita sehingga percakapan antara kita cukup familiar dan bebas sebagai teman.

Suatu malam di hari pertama, saat ngobrol bersama di beranda. Ada suara aneh yang kudengar. Berkerut dan berpelukan berulang-ulang, menimbulkan pertanyaan di dalam pikiranku. Aku mencoba diam untuk lebih konsentrasi mendengar arah suara.

Sesaat suaranya berhenti, sekitar 25 menit kemudian suaranya bergema lagi. Saya tidak tahu apa itu, tapi jelas suara itu berasal dari arah musholla 15 meter dari kami.

Meski suaranya tidak terlalu nyaring, tapi karena keheningan malam dan ketenangan desa, itu membuat suaranya sangat intens. Suaranya terdengar lagi. Tidak. .. tidak … nyit ..nyit!

Cerita Mistis Keranda Bambu Angker pemanggil Kematian. Begitulah cara Anda mengoceh dan berderit selama 2 menit dan kemudian berhenti sekitar 25 menit. Lalu berdering lagi, jadi berulang-ulang sampai fajar.

Semoga tidak hanya saya yang merasakan keanehan itu.Kulihat Doni juga celingukan melihat ke arah mushola namun belum berani berkomentar. Sementara Rudi dan Qom Darul hanya saling pandang kemudian juga diam.

Aku melihat mata Mbah Suban cukup lama menatap ke arah musholla. Mulutnya sedikit bergumam seperti berdoa, lalu tarik napas dalam-dalam.

“Suara apa itu, Mbah?” Doni membuka pembicaraan.

“Ah, tikus paling umum yang makan kayu!” Jawab Mbah Suban sambil mencoba mengalihkan perhatian, lalu melihat Typhoon dan Qom Darul. Ketiganya diam saja. Aku yakin ada sesuatu yang terkubur.

Cerita Mistis Keranda Bambu Angker pemanggil Kematian. Keesokan harinya ada warga yang datang menemui Mbah Suban untuk meminjam keranda karena salah satu anggota keluarganya ada yang meniriggal. Keranda? Aku menatap heran.

Maghrib sholat dan sholat shalat Isha di musholla, karena kemarin hanya ada 4 shaf.Ini mungkin menjadi alasan mengapa di dusun ini hanya berdiri musholla.jika ingin pergi ke masjid harus rela ke daerah kabupaten terlebih dahulu.

Malam itu gerimis masih memerah setelah Isha. Sementara saya menunggu sebentar, saya duduk di teras musholla dengan harapan Doni, yang kebetulan tidak menghadiri sholat, datang dengan payung. Tidak lama setelah mata menatap rumah redup, terdengar suara yang saya kenal 4 hari yang lalu. Bergetar dan berderit.

Aku melihat ke kanan, di mana sumber suaranya. Sesaat suaranya berhenti, beberapa menit kemudian suara itu muncul lagi. Tidak seperti sebelumnya, sekarang suaranya datang dengan frekuensi yang sering.

“Bagian bawah tikus tidak mengenal dirimu sendiri” pikirku.

Penasaran dan ingin tahu suaranya, saya mencoba memeriksanya. Saya berhenti di ruangan tempat padasan (tempat wudhu air).

Ada selubung bambu di sisi kanan pad. Lampu terang menerangi seluruh ruangan. Aku melihat sekeliling, tidak ada suara, tidak ada tikus. Dan tidak lama kemudian mendengar suaranya: Tidak … tidak … nit..nyit!

Saya sangat terkejut, saya melompat mundur selangkah. Jantungku tampak copot. Saya tidak bisa lari, kaki saya terasa di bumi. Keringat dingin langsung keluar dari pori-pori saya.

Tak terbayangkan tapi nyata. Tidak ada manusia, tidak ada tikus. Jenazah mayat di depanku bergerak dengan sendirinya, kakinya terangkat dan kembali menempel pada ubin dan semen.

Berulang kali untuk membuat suara berderak. Terkadang keranda itu seperti goyang yang memberi suara berderak. Aku berdiri cukup lama dan mataku tidak berkedip.

Mungkin karena sangat kaget dan takut. Saya bisa bernapas sedikit saat tiba-tiba tangan saya diseret keluar oleh seseorang. Ternyata menjadi Mbah Suban.

Saya diberi minum air dan terhibur saat tiba di rumah. Aku masih pucat dan takut.

“Santai Nak Jon, itu hal yang biasa terjadi di sini!” Mbah Suban meyakinkan saya saat saya masih segar.

Aku hanya diam dan terus menatap orang tua itu ingin melanjutkan ceritanya.

“Jika selubung bambu membuat suara berarti akan ada kematian besok, jika suara jedanya panjang berarti orang yang meninggal. Tapi kalau jeda sebentar sebentar atau jedanya pendek berarti satu lagi kematian,” cerita orang tua itu lagi.

“Bagaimana bisa, bagaimana, mbah?” Doni menyela.

“Dulu pernah menjadi santri di sini, dia dituduh menjadi tuan PKI. Maka dibunuh dengan sedih oleh massa yang tidak bertanggung jawab dan jenazahnya diletakkan di teras bambu.

” Tidak ada yang berani menguburnya karena takut dituduh sebagai temannya. Baru beberapa hari kemudian warga memadati dikuburnya. Setelah itu kerah bambu itu jadi angker, nampaknya untuk mengetahui bahwa di desa ini ada yang mati pasti suara. ”

Tentu, itu benar. Keesokan harinya ada 2 warga yang meninggal dunia. Satu anak dan satu bayi.

Apakah kematian itu tanda? Bukankah kematian adalah rahasia Tuhan? Apakah ini kebetulan? Tapi sepertinya tepat. Empat hari lagi, malam ada suara selubung bambu lalu keesokan harinya seseorang meninggal. Sekarang sama saja.

“Ah, itu kebetulan saja, Jon. Mati adalah rahasia Tuhan,” kata Doni saat kita sendiri. Saya juga setuju dengan dia.

Hari-hari berikutnya aman, tidak ada suara yang dikeluarkan dari selubung bambu.

Kami bertiga didampingi Qom Darul berkeliling desa, memancing, atau memanjat gunung. Suatu ketika saat mengelilingi desa, di lapangan ada orang berkerumun. Ternyata ada pertengkaran ayam.

“Kamu yang mana?” Qom Darul berkata kepada siapa diantara kita bertiga.

Malam hari ke-11 saya berada di desa, suara kemilau bambu terdengar lagi dengan jeda sekitar 25 menit. Menurut Mbah Suban, berarti satu orang meninggal.

“Ayo Jon bertaruh, besok ada yang meninggal bukan?” Doni membuka tawaran itu, tapi aku tidak menanggapi.

Tapi benarkah, keesokan harinya ada warga yang meninggal. Aku mulai percaya bahwa porselen bambu adalah tanda kematian. Sungguh ajaib tapi nyata. Namun Doni Mengatakan itu kebetulan.

Kami berencana kembali ke kota pada hari ke-18. Semalam di rumah Mbah, Suban, seperti biasa kami mengobrol di beranda. Kami terdiam dan tercengang saat suara kemilau bambu terdengar lagi.

Olahraga jantung juga, seperti undian siapa saja di antara ratusan penduduk desa yang akan terkena bencana.

“Ayo bertaruh, besok seseorang meninggal bukan?” Kata Doni.

“Ya sudah jelas!” Kata Qom Darul.

“Ayo bertaruh bertaruh, saya yakin besok tidak ada yang meninggal,” tantang Doni.

Qom Darul hanya menggelengkan kepalanya. Plong, saya senang karena keesokan paginya tidak ada kabar kematian. Berarti ada selip dari kedahsyatan suara kerla bambu.

Tapi, tidak seperti yang sebelumnya, Doni biasanya senang jika tebakannya mengatakan pria itu tiba-tiba terdiam. Pagi ini kami pergi ke daerah kabupaten untuk sekedar mencari souvenir yang akan kami bawa ke kota. Ceria di Aneh, Doni yang biasanya selalu pergi kemana kita pergi, sekarang jadi rasakan di rumah. Hanya berbaring di tempat tidur.

“Lebih malas, lelah tidur kurang tidur!” Dia berkata.

Facebook Comments
Share Button