Cerita Mistis Makhluk Halus Membawa AdikKu Pergi

Cerita Mistis Makhluk Halus Membawa AdikKu Pergi

Cerita Mistis Makhluk Halus Membawa AdikKu Pergi. Kami berangkat dari rumah di pagi hari dengan menaiki mobil pariwisata sewaan. Ini adalah kekecewaan yang berlangsung saat ini bukan hanya keluarga kami tetapi juga sepupu ibuku. Dihitung ada sekitar delapan yang berpartisipasi dan masing-masing membawa putranya.

Cerita Mistis Makhluk Halus Membawa AdikKu Pergi. Ketika mobil baru kami berjalan, keluar dari semua anak-anak hanya saudara saya Ali yang membaca doa naik kendaraan. Dengan suara yang nyaring dan nyaring. Dikatakan bahwa pada waktu itu Ali masih duduk di TK Islami dan dia tahu betul doa-doanya.

Ketika kita dewasa, tidak ada yang membaca doa, setidaknya hanya membaca Bismillah.

Setelah selesai membaca doa kendaraan, Ali kemudian berjalan ke bangku yang ada di belakangku.

” Kakak, kalau nanti di Bukit Lawang, Ali kepengen melihat rumah orangutan. Nanti kak Ita ajak Ali ya! ”

“Ah, anak-anak kecil tidak bisa melihat orangutan. Karena tempatnya jauh. Kakak laki-laki belum pernah ke sana,” kataku.

Memang, meski sering ke Bukit Lawang, saya belum pernah ke peternakan orangutan. Karena Iokasinya sangat jauh di tengah hutan dan perjalanan ke situ sangat sulit.

“Ali, kamu tidak bisa pergi ke sana, kamu akan dijadikan anak orangutan, wajahmu bisa menjadi monyet,” tiba-tiba Om Heru, kakak ibuku berbicara percakapan kami dengan senyum.

Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, mobil kami naik ke daerah objek wisata. Setiap keluarga masing-masing turun dan membawa beberapa makanan. Sementara saya ditugaskan untuk mengurus anak-anak kecil.

Kami kemudian mencari tempat yang nyaman untuk menggelar tikar dan beristirahat. Memang, lokasi di pilih agak hulu.

Selain tempatnya tidak terlalu padat orang yang melintas, air sungai juga masih mengaulir bersih tidak tercemar oleh air limbah hotel yang mengapung di sepanjang sungai hilir.

Para ibu sibuk menyiapkan makan siang. Sementara itu, anak-anak sepupu saya tidak sabar untuk menikmati kesegaran air sungai.

“Hei Ita, bocah kecil tidak turun ke sungai untuk mandi, Ini masih siang. Biarkan aku makan siang,” teriak ibuku.

“Ya, Ma!” Saya katakan, memimpin sepupu saya yang paling nakal, Ari. Saat itu Ari telah bermain air dan membiarkan bajunya basah.

“Di mana Ali itu? Jangan biarkan dia sendirian, akan hilang!” Kata ayahku dari tepi sungai.

Itu adalah kebiasaan Ali bahwa jika dia tertarik pada sesuatu maka dia akan berhenti lama dan memperhatikannya. Dan ayah saya pernah kehilangan Ali saat membawanya berjalan-jalan ke kebun binatang.

“Jya, Ita akan menjaga Ali, selain itu Alinya duduk di bawah pohon,” kataku, menunjuk ke tempat Ali sedang duduk.

Memang, dibandingkan dengan sepupuku yang seumuran denganku, adik Ali adalah bocah pendiam dan tidak begitu nakal. Gerbongnya juga tenang sebagai orang dewasa.

“Ini suka makan adikmu, lalu mandi ke sungai,” kata ayahku sambil berjalan mengambil makanan.

Lalu kita semua makan bersama. Saat itu Ali diberi makan oleh mama. Karena Ali saat makan sendirian sangat lambat.

Setelah makan malam saya segera mengantar tiga sepupu saya untuk mandi di sungai. Sementara itu, sepupu lainnya masing-masing mengawal orangtuanya. Sekitar setengah jam kemudian ibuku turun ke sungai dan meminta Ali.

“Ita, Ali ada di mana, bagaimana bisa mandi di sini?” Tanya ibuku.

“Tidak tahu, buat Ali masih diberi makan dengan mama,” jawabku.

“Ya, dia baru makan sebentar, sudah datang mengejarmu ke sungai,” kata ayahku.

“Ah, tidak. Itu hanya menggendong Ari, Ayu, dan Dilla ke pemandian itu sendiri. Sampai ketemu di sana,” jawabku, menunjuk geng anak-anak kecil lainnya.

Ayah saya segera pindah untuk mencari Ali. Setelah itu saya melihat ayah naik ke atas, ke tikar tempat pakaian dan makanan kami berada.

Saya melihat ayah berbicara di sana, Beberapa saat kemudian ayah kembali ke sungai dan memanggil ibu saya yang sedang berendam di sungai.
“Ali tidak ada di sungai, aku tidak mencari tikar,” kata ayahku.

“Sebaiknya anak-anak yang mandi terlebih dahulu memesan. Jadi kita mudah menemukan Ali,” kata Om Heru sambil menarik sepupu saya yang sedang mandi.

Kemudian anak-anak kecil itu dikumpulkan menjadi satu dan dijaga oleh Tante Iyun, saudara perempuannya, mama. Sementara itu kami berpencar untuk Ali. Saya diberitahu untuk menyisir melalui sungai.

Mama, ayah dan saudara perempuannya saling mencari. Sedangkan abang saya Syamsul dia memilih untuk menyelam mencari ke dasar sungai.

Setengah jam kemudian kami berkumpul lagi. Ah, pencarian itu tidak berguna. Semua orang tidak menemukan Ali. Di tengah keputusasaan ini, seorang pengunjung menyarankan kami untuk menempatkan pawang Sungai Bukit Lawang, dan bertanya tentang keberadaan Ali.

Saya dan ayah segera bertemu pawáng sungal itu.

“Tuan, bantu saya melihat kehadiran anak saya. Tadi kami melihatnya bersama saudara lelakinya ke sungai. Sementara saudaranya mengatakan dia tidak membawa adik perempuannya, Ali,” kata ayah saya.

“Bisakah Anda melihat apakah ia hanyut di sungai?”

Tidak lama setelah pawang berhenti sambil memainkan ujung jarinya seperti seorang lelaki yang sedang memuliakan.

“Dia tidak melayang dan tidak menghilang. Saat ini dia sedang melihat orangutan. Jika seseorang yang dekat dengan anak itu dua doa rak’ah yang disediakan untuknya. Insya Allah bocah itu akan muncul,” kata pawang sesudahnya.

“Satu lagi, setelah shalat lihat dia naik ke sungai. Dan kalau mau melihatnya dari bawah lutut, posisinya seperti orang yang menungging,” jelas pawang yang panjang.

Setelah itu nenek, ayah, mama dan saudara-saudara lainnya melakukan sholat di masjid-masjid kecil di Bukit Lawang. Sayangnya, kami mencari lagi dan mengeksekusi komando pawang.

Tujuan kami adalah untuk berani Ali hanya hilir. Kami terus berjalan sampai perbatasan asal air mengalir. Tapi kami belum menemukan Ali. Saya kelelahan tanpa menyadari bahwa saya sedang berjalan menuju pagar bambu. Maksud saya ingin istirahat di bawahnya.

Iseng saya melihat dan melihat dari bawah lutut ke arah pohon bambu. Astaghflullah, saya melihat Ali duduk sendirian di bawah pohon bambu, tetapi posisi duduknya di belakang saya. Segera aku memanggilnya.

Awalnya Ali hanya berdiri di sana dan memperhatikanku. Matanya kosong dan dia tidak bereaksi. Segera saya memanggil ayah dan saudara lainnya. Kemudian Ali dibawa ke matras tempat saudara yang lain berkumpul.

Nenek saya mengambil segelas air dan membaca ayat kursi itu. Air itu diseka ke wajah Ali dan diberi minum untuknya. Sesaat kemudian Ali tampak bangun, dia menangis. Kami kemudian bertanya ke mana dia pergi.

Dari kisah Ali, ketika dia duduk sendirian, ada saudara-saudaranya dan teman-teman TK-nya bernama Pandi. Dia mengajak Ali untuk pergi melihat orangutan.

Ali dibawa di pundak saudaranya, dan dibawa ke hutan. Di lantai atas, di mana pusat rehabilitasi orangutan berada, Dia melihat ada petugas memberi makan ibu orangutan dan satu anak.

Setelah puas melihat orangutan, Ali diturunkan dan ditinggalkan sendirian di pohon bambu sampai akhirnya kami menemukannya. Ali juga menceritakan detail jalan yang mengarah ke atas, jembatan itu menggoyang warna pakaian yang dipecat petugas saat itu.

Karena penasaran dengan cerita Ali, saudara saya membuktikannya. Dia kemudian naik ke atas dan apa yang dikatakan Ali benar, dari jumlah orangutan dan warna pakaian petugas.

Namun perjalanan yang ditempuh Syamsul Bang untuk pulang pergi melihat orang utan memakan waktu 3 jam. Semua sementara hanya satu jam hilang. Dan tentang temannya Pandi, ayah saya dipanggil ke rumah Pandi, Pandi ada di rumah dan bukan ke Bukit Lawang.

Ternyata Ali dibawa oleh arwah di Bukit Lawang untuk melihat orangutan. Roh-roh itu menyerupai Pandi, teman dekat Ali di taman kanak-kanak, dan seorang dewasa yang membawa Ali.

Untunglah lelaki baik hati itu memulangkan kakakku Ali tanpa kekurangan apa-apa. Sejak kejadian itu keluargaku tidak pernah menginjakkan kaki lagi di Bukit Lawang.

Facebook Comments
Share Button