Cerita Mistis Makhluk Lelembut Asal Bali Indonesia

Cerita Mistis Kebocoran selalu diidentifikasi dengan kepala makhluk jahat yang dihadapi dan bertaring gigi dan dibungkus dalam kain kotak-kotak hitam dan putih tidak hanya sekadar Bali folklore. Kebocoran ternyata ajaran-ajaran suci literatur Bali yang, ketika berbicara dengan kreativitas, akan mengubah orang ke dalam apa pun ia berpikir itu.

Kebocoran tidak sedang digunakan untuk pesugihan, tetapi pilihan bagi orang-orang yang kecanduan sastra suci kuno di Bali. Karena itu tidak menghasilkan apa-apa, aliran mistik menjadi usang.

Dalam naskah Bali tidak ada yang disebut kebocoran, tapi ‘liya, ak’ yang berarti lima karakter (memasukkan dan menghapus kekuatan keaksaraan di tubuh melalui tata-cara tertentu). Cerita Mistis

Lima karakter adalah Si mencerminkan Allah, Wa adalah anugerah, Ya adalah jiwa, Na adalah kekuatan yang mencakup intelijen dan Ma adalah keegoisan yang mengikat jiwa. Kekuatan karakter disebut lima kebakaran. Cerita Mistis

Manusia belajar sesuatu yang rohani, itu akan memancarkan cahaya (aura) ketika ia mencapai puncaknya. Cahaya keluar melalui panca indera tubuh telinga, mata, mulut, mahkota dan alat kelamin tetapi umumnya cahaya keluar melalui mata dan mulut. Cerita Mistis

Bocor setelah doa, Ong gni brahma anglebur lima maha bhuta, anglukat sarining segera. mulihakene layang-layang cincin Betara guru, kami tumitis dadi manusia mahotama. Ong berdering sah, wrete namah.

Terdapat tujuh tingkatan kebocoran rohani:
1. kebocoran Barak (brahma). Kebocoran ini hanya dapat mengeluarkan cahaya merah api.
2. kebocoran bulan,
3. bocor pemamoran,
4. bocor bunga,
5. kebocoran sari,
6. bocor campursari Roso laras Rangdu,
7. bocor Klakah Siwa, adalah yang tertinggi untuk cakranya ketujuh kebocoran memancarkan cahaya sesuai dengan kehendak pikirannya.

Tingkat tertinggi kebocoran menjadi bade (Menara dimasukan), di bawah menjadi elang, dan lebih bawah lagi pada hewan lain, seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, menabur, dan lain-lain. Ianya juga dikenal sebagai I Pudak Setegal (terkenal cantik dan bau wangi), saya Bulu Garuda Emas, saya Jaka Punggul dan aku pitik Bengil (ayam di perendaman basah).

Perlu diingat, pada saat penguasa raja Udayana di Bali pada abad ke-16, ketika saya Gede Basur yang masih hidup tidak pernah ditulis dua penulis buku ejeksi Pengeleakan yaitu ‘Lontar Bhairawi Durga’ dan ‘Lontar Ratuning Kawisesan’.

Facebook Comments
Share Button