Cerita Mistis Pengalaman Mencekam Di Gunung Sumbing

Cerita Mistis Terima kasih untuk itu Mas Billy’ve diperbarui cerita saya kemarin. Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya selama kegiatan desa pemuda pecinta alam saya “Broskend Pala” mendaki gunung

Kali ini kami ingin pergi gunung adalah Gunung Sumbing. Bagi mereka yang tidak tahu, gunung ini terletak di antara 3 kabupaten: Wonosobo, Temanggung dan Magelang, Jawa Tengah dengan ketinggian 3.371 meter di atas permukaan laut. Cerita Mistis

Kami meninggalkan rumah sekitar pukul 8 pagi pada sepeda motor dengan personil sebanyak enam orang. Dalam perjalanan kami bersantai dan menikmati perjalanan sesekali berhenti untuk istirahat makan, doa dan isi bensin. Dan kami tiba di basecamp Gunung Sumbing sekitar pukul 3 sore.

Itu Sabtu (lupa tanggalnya, namun tahun 2012). Basecamp masih sepi dan hanya ada dua tim yang sudah naik dan tim pertama yang baru saja turun, maka setelah menyelesaikan administrasi kami bersiap untuk memulai perjalanan.

Pukul 5 sore kami berdoa dan akhirnya pergi ke cahaya mengukir puncak mimpi * ehh maaf bahkan menyanyi hehe. Cerita Mistis

Kami berjalan beriringan satu sama take lain ternyata membawa carrier jika lelah. Ketika senja tiba kami akhirnya memutuskan untuk mengambil shalat maghrib istirahat, karena tidak ada air maka kita ber 3 tayamum (hanya 3 orang yang berdoa termasuk saya) dan setelah selesai kami melanjutkan perjalanan.

Nah, setelah sekitar 30 menit kami berjalan saya pikir itu aneh, dingin mulai merasa (udara tidak dingin tapi lebih ke merinding). Saya tidak berani mengatakan siapa pun karena kemudian dihitung menakut-nakuti. Posisi saya pada waktu itu di baris 5 dan di belakang ada saudara saya yang berpengalaman.

Pada saat itu situasi gelap dan sunyi suara hanya hewan nokturnal yang bisa didengar. Kami juga jarang berbicara, hanya cahaya bulan saja yang kita andalkan untuk senter tidak selalu digunakan untuk menghemat baterai. Karena saya di baris kelima seharusnya di depan hanya empat orang, kan?

Tapi aku menghitung lima orang karena saya tidak yakin saya sebut adik saya berada di belakang “aman Mas? Rear?”

Dia menjawab “Aman, Fin”

Setiap beberapa langkah saya selalu bertanya “Mas, kembali aman?”

Dan dia menjawab “kontrol Belakang”

Sudah 5 kali saya bertanya, tapi saya tidak yakin karena di depan saya jelas bahwa ada 5 orang yang berjalan dengan jaket dan kupluk.

Saya tidak berpikir tentang hal itu lagi karena mata saya mungkin hanya lelah, maka kami sepakat untuk mengambil istirahat untuk minum dan meluruskan kaki saya, ketika saya impas menghitung jumlah tim kami yang lengkap ada 6 orang termasuk saya

“Terus sebelum ada,” gumamku.

Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan dan kali ini aku berada di baris 6 dan hal yang aneh muncul kembali, di depan saya ada 6 orang.

Aku benar-benar bergidik dan ketakutan, saya tidak berbicara sama sekali hanya jika heran baru aku akan menjawab.

Saya pikir jika ada “tamu” tidak dalam undang-undang hanya harus dilihat dan hanya menampakkan diri saja (pikiran saya) tetapi lebih aneh lagi “dia” juga membantu kita ketika kita mengalami kesulitan naik di jalan curam, karena menghadapi saya teman ditutup topeng jadi saya tidak ingat siapa pun yang ada di depan saya.

Hal ini terus sampai akhirnya kami tiba di pos terakhir dan memilih lapang sedikit untuk mendirikan tenda, maka Kalu tidak ingat sudah 11 dan kami juga menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan kemah.

Setelah kami mulai memasak tenda berdiri dan malam doa, pada saat pembentukan tenda baru aku bisa melihat dengan jelas yang mengikuti kita sebagai daerah mereka tidak pohon lagi tapi medan. Aku melihat “dia” membantu kami, membangun tenda tapi teman-teman saya tidak ada yang menyadari kehadirannya.

Setelah semua selesai makan kami adalah bergantian memasuki tenda untuk tidur dan entri terakhir saya, saya penasaran jadi saya menghitung lagi jumlah timnya dan “dia” masih ada tapi saya tidak tahu mana yang karena semua menggunakan kantong tidur. Aku tidur dengan sejuta pertanyaan yang tidak bisa terjawab.

Setelah bangun sekitar 5:00 pagi saya kembali sholat subuh dan ingat apa yang terjadi semalam maka saya menghitung tim saya lagi, tapi kali ini hanya ada 6 orang, termasuk saya

“Di mana dia,” Aku bertanya-tanya.

Karena mereka tidak percaya saya menghitung lagi sampai 4 kali tapi hanya ada 6 orang termasuk saya.

Setelah berkemas kami melanjutkan perjalanan ke puncak karena sudah terlambat, tidak ada hal yang aneh ketika kami pulang, tapi setelah mencapai basecamp kita menyadari ada hal yang aneh bahwa cara kita bertemu dengan dua tim yang naik sebelum kita, Naum mereka sendiri berada di basecamp dan reaksi kita ber-6 adalah kejutan dan pertanyaan yang sama mark.

Kami mengobrol dan berkenalan dengan mereka dan kakak saya bertanya “Lah, Mas melalui mana mengapa kita tidak melihat?”

“Ya melewati Garung tho mas, wong di sini pula” katanya. (Informasi tentang Gunung Sumbing ada 4 jalur hiking dan salah satu dari mereka Garung)

Benar juga kata masnya pikir saya karena jika kita akan melalui jalur lain berarti dimaksudkan basecamp basecamp seharusnya jalan yang (kecuali liar) dan hari yang sama pada pukul 3 sore kami pulang dengan seribu tanda tanya …

Siapa yang datang dengan kami? Mengapa kita tidak melihat tim lain? Tapi alhamdulillah kami tidak melihat mengapa dan selamat pulang ke rumah.

Facebook Comments
Share Button