Cerita Mistis Pertemuan Dengan Pak Bambang

Cerita Mistis Siang itu kami memanggilnya namanya Tomi datang menjemput pacarnya yang kami sebut namanya Noni. Siang itu noni meminta pacarnya untuk membawa pulang neneknya yang berada di luar kota karena ada acara keluarga. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pacar tomi datang, dan noni pun langsung menuju ke rumah neneknya yang dibonceng tomi.

Mereka menempuh perjalanan cukup jauh saat mengobrol dan ngobrol di sepanjang jalan sehingga tidak terasa setelah bepergian selama kurang lebih satu setengah jam. Mereka akhirnya menetap di keponakan neneknya. Karena sudah adzan maghrib tomi tidak mengikuti yang noni pertama masuk ke dalam rumah, dia memilih pergi ke masjid hanya untuk shalat maghrib di jamaah dan baru kembali setelah shalat isya. Cerita Mistis

Di masjid sambil menunggu seruan untuk sholat isya tomi ngobrol dengan ayah bapak setelah dia ketemu bernama pak bambang. Tomi mendekati Pak Bambang dan mengajaknya mengobrol karena melihat pria itu melihat sepeda yang dia gunakan dari halaman masjid. Cerita Mistis

“Sepeda motor ini antik ya dik?” Pak Bambang bertanya.
“Ya pak ini motor antik punya ayah saya saat saya masih muda” jawab tomi.
“Saya senang melihat motor antik gini, apalagi berhasil membuat saya cemburu karenanya” kata pak bambang.
“Kenapa iri Pak” kata tomi.

“Karena saya juga punya motor antik yang dikurangkan, tapi sudah lebih dari tiga tahun tidak dipelihara dan hanya dimasukkan ke dalam gudang” kata Bambang.
“Oh, sayang, motor apa yang rusak jadi terbengkalai?” Kata tomi

“Tidak terlalu sedih dik, dulu sebelum saya meninggalkan motor yang masih bagus dan mulus tapi sekarang tidak ada yang menyadarinya” kata pak bambang.
“Jadi kenapa tidak diobati lagi Pak Kan sayang, apalagi kalau motornya gak masalah sama sekali” kata tomi.

Pak Bambang berhenti sejenak dan berkata “karena saya punya urusan penting jadi saya tidak punya waktu untuk menjaganya lagi, bisnis ini membuat saya tidak bisa selalu pulang dan hanya pada waktu tertentu saya bisa pulang tanpa sempat ke rumah. jaga dia”.

“Saudaraku bukan orang disini ya?” Tanya Bambang.
“Ya pak saya dari kota, saya datang ke sini untuk membawa teman yang memiliki acara keluarga” kata tomi.
“Oh, acara apa dimana dan dimana? Kali ini saya tahu,” kata Pak Bambang.
“Temanku bernama noni pak, aku antar ke rumah neneknya yang berada disebelah gedung desa” kata tomi.

“Oh si noni, keponakan saya dik, lama saya juga tidak pernah ketemu dia” kata Pak Bambang.
“Betapa kebetulan ya, sebenarnya ada yang menunjukkan apa tuan rumah nenek?”.
“Oh itu ulang tahun seribu hari kematian salah satu kerabatnya, kemudian setelah shalat isya kami berdua datang ke sana” Pak Bambang menjelaskan.
“Ya pak” jawab tomi sambil tersenyum dan langsung pindah ke masjid untuk sholat isya jamaah.

Setelah sholat isya tomi mencari Pak Bambang di sekitar masjid namun tidak menemukannya sampai dia melihat dia berdiri di luar pintu gerbang masjid. Tomi langsung menghampirinya dan mengajak Pak Bambang untuk segera berangkat. Mereka segera melewati jalur sepi ke rumah noni neneknya tanpa bercakap-cakap lagi. Dan tidak berapa lama kemudian mereka sampai di depan rumah neneknya noni. Pak Bambang kemudian berdiri sambil merogoh sakunya dan memberi dua ratus ribu keping ke tomi.

“Berapa uang ini pak?” Tanya tomi
“Ini adalah uang untuk membeli air mineral dan selebihnya anda selamatkan untuk membeli bensin” kata Pak Bambang, saat ia masuk ke dalam rumah.

Tomi kemudian memarkir kendaraannya lebih menyamping karena banyak orang mulai berdatangan untuk melakukan acara dzikir di rumah nenek noni. Tepat sebelum dia masuk, dia tiba-tiba terkejut oleh seorang noni yang menepuk pundaknya sambil mengucapkan “tom antara saya untuk membeli air mineral yuk”. Tanpa sepatah kata tomi pun langsung mengambil sepedanya dan mengendarai noni ke kios tempat membeli air mineral.

“Bukannya kau bilang pamanmu beli air mineral?” Tanya tomi
“Ya kok kok kamu tahu” kata noni.

“Ya, Anda tahu kami bersama di masjid, dan dia memberi saya dua ratus ribu uang untuk membeli air mineral dan sisanya saya beli bensin, paman Anda sangat baik,” kata tomi.
“Sungguh? Perasaan paman dari masa lalu tuh ada di rumah nenek deh, jangan ke mana-mana karena dia membantu membersihkan” tanya noni kagum.

“Jangan bercanda non, karena saya sebenarnya dari masa lalu dengan Pak Bambang di masjid” kata tomi.
“Tom, acara home sang nenek adalah acara memperingati seribu hari kematian om bambang tahu” kata Noni tak kalah kaget.

Tomi tersentak, kilatan pertemuannya dengan Pak Bambang kembali teringat. Ia ingat pak bambang yang lebih menundukkan wajahnya saat ngobrol, merasa kedinginan saat berada di dekatnya, wajah bambang yang terlihat pucat karena orang kurang istirahat, tatapan orang di sekitar masjid yang melihat takjub saat berbicara dengan Pak Bambang, jangan Lihat pak bambang bergabung dengan sholat berjamaah Dan jangan merasa ada beban tambahan pada motor saat mengendarai bambang pak.

Dengan tangan yang masih bergetar tomi lalu merogoh saku jaketnya dimana dia menaruh uangnya dua ratus seratus ribu dan betapa terkejutnya ternyata ternyata hanya dua potong daun kering. Jantungnya berdegup kencang dan spontan, dia menarik tali pengikatnya lebih kencang, dia tidak mendengar jeritan noni yang memintanya untuk berhenti karena kios yang mereka lewati telah lewat. Itu dia.

Facebook Comments
Share Button