Cerita Mistis Tersesat Di Gunung Ciremai Yang Membuat Merinding

Cerita Mistis Tersesat Di Gunung Ciremai Yang Membuat Merinding.

Cerita Mistis Tersesat Di Gunung Ciremai. Salam tulus !! Kali ini saya ingin berbagi pengalaman yang terjadi di tahun 2008 ini. Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih memikirkan keamanan.

Hari itu saya dan sepupu saya Alfin, berencana mendaki Gunung Ciremai untuk pertama kalinya setelah kami mendaki Gunung Salak dan Gunung Sumbing. Kebetulan kita punya teman orang Kuningan, Irma namanya. Kami bertemu Irma di konser musik underground di daerah Bekasi.

Cerita Mistis Tersesat Di Gunung Ciremai Setelah pergi ke warnet untuk mencari info tentang Gunung Ciremai (tau HP kita masih merk E * he). Berangkat dari Jakarta ke Kuningan yang sudah menipu Irma dan dia setuju untuk menemani kami mendaki.

Singkat Cerita Mistis Tersesat Di Gunung Ciremai. kami sampai di terminal Kuningan sekitar jam 5 sore dan Irma sedang menunggu kedatangan kami bersama temannya Hendra, lalu langsung menuju ke rumah Irma yang berada tepat di kaki Gunung Ciremai tapi lucu meski tinggal di kaki Gunung Ciremai, Irma dan Hendra belum pernah mendaki Gunung Ciremai mungkin karena mereka bukan pendaki seperti kita.

Setelah puas ngobrol lama kami memutuskan untuk mulai mendaki tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada ibu Irma karena ibu Irma pergi ke masjid dan mengatakan bahwa Irma sudah biasa pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Kami pergi ke pos perizinan terdekat. Tapi Hendra menyarankan agar kita tidak perlu pergi ke pos perizinan dengan alasan bahwa dia adalah warga desa di sini. Aku dan Alfin akhirnya dipatuhi.

Saya mengeluarkan kompas sebagai patokan yang menunjukkan puncaknya di timur. Perjalanan di Hendra mulai menuntun melewati lapangan warga dan menembus hutan pinus yang dipenuhi semak-semak yang ditebas Hendra menggunakan parang yang dibawa dari rumah Irma dan langsung tembus ke jalur utama melalui Palutungan tepatnya sebelum menuju 3 Pangguyungan Badak dan terus berlanjut. naik ke pos 4 setelah menemukan lahan datar kami memutuskan untuk membuka tenda di sekitar pos 4.

Setelah minum dan makan snack kami memutuskan untuk tidur tapi karena tenda yang kami bawa hanya cukup untuk 2 orang saya akhirnya Hendra dan memutuskan untuk tidur di depan tenda. Sayangnya mata saya belum tertutup, saya melihat jam di tangan saya menunjukkan pkl.00.30 Saya memutuskan untuk duduk dan menyalakan rokok, saya melihat Hendra yang telah memasuki tanah impian yang ditandai dengan mendengkur dan tiba-tiba terdengar seperti orang-orang yang berjalan dari semak-semak di depan saya.

Tiba-tiba aku merinding dan senter senter ke semak-semak dan terlihat seperti nenek yang sedang membungkuk sambil berjalan kebaya dengan tongkat ke arahku. Segera saya melemparkan rokok ke tangan saya dan masuk ke dalam tenda untuk membangunkan Alfin agar bertukar posisi tapi tidak mengatakan bahwa saya baru saja melihat neneknya.

Pagi hari tiba setelah sarapan pagi, kami melanjutkan perjalanan ke puncak, tapi tidak ada pendaki yang kami temui dalam perjalanan menuju puncak. Mungkin karena hari itu adalah hari kerja. Akhirnya sekitar 6 jam perjalanan kami sampai di puncak dan tidak ada sama sekali. Kira-kira setengah jam di puncak maka ada 1 rombongan dari Bandung berjumlah 6 orang yang bergabung dengan kami dan berkenalan. Di tengah obrolan saya bertanya tentang keberadaan bunga edelweiss di gunung ini. Dan setelah dijelaskan, kami bergegas pergi ke ladang edelweiss saat mereka turun.

Sampai kita berada di lapangan edelweiss, Irma dan Hendra adalah pertama kalinya melihat bunga itu. Hendra dan saya juga dengan sotoy menjelaskan tentang bunga edelweis dan semua mitos.

Puas di lapangan edelweiss, kami melanjutkan perjalanan kami sampai sekitar pukul 15.00 lalu sampai di persimpangan Linggarjati dan Palutungan. Kami menempuh jalan menuju Palutungan sampai hari permulaan yang gelap kami belum menemukan jalur yang sama yang kami lewati sementara tapi kami masih belum mempedulikannya karena kami pikir jalur utama via Palutungan masih jauh di sekitar pkl.19.00 kami memutuskan untuk membuka tenda dan kemudian lanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Pagi tiba sekitar pkl.06.00 kami memulai perjalanan turun hampir 3 jam kami berjalan tapi belum juga menemukan jalur yang kami lewati. Aneh lagi ada kadal yang terus mengikuti kita kapan sejak kapan. Saat itu saya merasa cemas dan yakin bahwa kami tersesat karena jalur yang kami lewati hanya semak setinggi 1 meter di depan kami.

Cerita Mistis Tersesat Di Gunung Cirema Kami juga berhenti dan bernegosiasi apakah akan terus turun atau kembali ke puncak akhirnya memutuskan kami semua kembali ke puncak.

Kadal terus mengikuti kami. Karena penasaran, Hendra mencoba mendekati kadal dan menempelkan kaki tepat di depannya. Tapi kadal itu tetap saja tidak mau menantang Hendra. aAlfin juga menyarankan agar kita terus berjalan tanpa memperhatikan kadal.

Sampai sore hari, kita belum keluar dari hutan yang didominasi oleh pohon-pohon besar. Saya juga mencoba mengikat tali rapia biru dengan apa yang selalu saya bawa setiap kali saya naik sebagai tanda. Dan anehnya, kita selalu kembali melewati tanda yang saya taruh itu, ditambah kadal yang masih terus mengikuti kita.

Hari telah gelap. Kami membuka kembali tenda dan makan malam, karena persediaan kami masih cukup banyak, terutama biskuit. Air yang kita bawa masih cukup banyak. Konduktor air 5 liter juga utuh.

Puas untuk mengisi perut kita memutuskan untuk tidur kali ini sehingga sepi tidak ada suara binatang hutan sama seperti biasanya. Saya mulai tertidur di luar tenda sampai tiba-tiba Hendra membangunkan saya karena dia melihat lampu itu seperti senter, tanpa membangunkan Alfin dan Irma. Kami berlari mendekati cahaya sekitar 200m sambil berteriak sekeras mungkin.

Sepertinya mereka tidak mendengar teriakan kami dan terus berjalan tapi kami terus berlari menuju sumber cahaya. Muncul sedikit harapan di hati untuk keluar dari hutan ini. Alih-alih bantuan yang kita dapatkan, Hendra justrus jatuh ke dalam lubang dalam sekitar 4 meter.

Yang lebih mengejutkan lagi sekitar 10 meter dari lubang adalah jurang yang entah bagaimana puluhan meter dalam dengan kata lain cahaya panjang seperti senter tidak berasal dari manusia karena mengapung melalui ngarai seandainya Hendra tidak jatuh ke dalam lubang mungkin. kami berdua telah memasuki jurang.

Saya bergegas kembali ke lubang dimana Hendra kemudian memukul Hendra dengan senter di tangan saya untungnya dia tidak mengalami luka serius. Kukatakan padanya untuk menunggu sebentar dan kemudian aku kembali ke tenda untuk membangunkan Alfin dan mengambil tali anyaman. Akhirnya Hendra kita bisa angkat tapi sayangnya pinggul hendra robek sekitar 5 cm, saya dan Alfin segera merangkul Hendra menuju tenda dan segera mengeluarkan alat bantu pertolongan pertama untuk merawat luka di pinggul Hendra.

Cerita Mistis Tersesat Di Gunung Ciremai Belum selesai Cerita Mistis Tersesat Di Gunung Ciremai mengobati luka Hendra, tiba-tiba Irma terbangun dan menjerit histeris dengan mata yang melotot namun suaranya terdengar seperti suara nenek dengan bahasa Kuningan yang menurut Hendra dia bilang “apa yang ingin kamu datang ke sini.”

Kami bertiga meminta maaf dan meminta neneknya keluar dari tubuh Irma tapi Irma masih berteriak sesekali tertawa terbahak-bahak. Kita membaca doa yang kita hafal tapi tidak menunjukkan adanya perubahan.

Cerita Mistis Tersesat Di Gunung Ciremai Karena saya kesal saya sampaikan kepada Alfin dan Hendra untuk menahan Irma dengan kencang dan saya menduduki kedua kaki Irma dan menggigit ibu jari Irma, teriakan Irma perlahan mulai melemah hingga akhirnya sadar sepenuhnya. Saya segera memberinya minuman dan Irma mengatakan kepada saya bahwa dia mengimpikan membawa nenek ke sebuah tempat di dalam gua.

Kami semua mulai panik dan mengira kami tidak akan keluar dari hutan aneh itu. Pukul 02.00 saya memutuskan untuk shalat tahajud (jujur sebelum shalat wajib saya jarang lakukan). Ketiganya juga ikut shalat doajud sholat dengan wudhu di derigen yang kita bawa. Kami berdoa untuk keluar dari hutan ini dan jika kita harus mati kita menyerah.

Atmosfer menjadi pingsan saat kita berempat tanpa sadar meneteskan air. Setelah berdoa dan berdoa kami memutuskan untuk pergi tidur dan melanjutkan perjalanannya ketika hari itu cerah.

Pukul 08.00, kami bertiga terbangun kecuali Hendra yang masih tidur. Saat Alfin menyentuh tubuh kepala Hendra terasa sangat panas. Mungkin itu luka di pinggulnya. Setelah sarapan pagi, kami memulai perjalanan kembali dengan sangat pelan karena kondisi Hendra cukup mengkhawatirkan saat itu.

Satu jam perjalanan kami sampai di sebuah flat yang cukup lebar dan beristirahat, Alfin berjalan sendiri untuk mencari petunjuk, setelah setengah jam dia kembali dan mengatakan bahwa dia melihat desa di utara. Kami kembali dalam perjalanan ke utara.

Stok air kami hanya 2 botol 600ml. Sebelum gelap, kita pasti sudah sampai di desa yang dilihat Alfin. Empat jam sudah kita jalani tapi desa yang dilihat Alfin diatas belum terpenuhi. Sayangnya bekas tali yang saya pasang jauh di bawah.

Kembali kami lewati saat kami berjalan sangat jauh ke atas dan berjalan berlawanan dari arah kami meletakkan tanda.

Aku sedang berpikir untuk mati di gunung ini. Tapi keluarga dan teman-temanku di Jakarta membuatku optimis kalau bisa keluar dari hutan ini. Hari gelap lagi kami masih berada di hutan yang didominasi pohon pohon raksasa. Kami membuka kembali tenda dan mengisi perut dan tidur. Kali ini aku dan Alfin sedang tidur di luar tenda.

Tapi sepertinya Alfin tidak bisa tidur entah bagaimana apa yang dipikirkannya. Dia hanya memejamkan mata saat membaca doa seperti orang yang ketakutan tapi tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku terus mengamati Alfin sambil sesekali melihat sekeliling. Lalu Alfin bangkit dan menyuruh kami melanjutkan perjalanan.

Saat itu sekitar jam 9 malam saya menyarankan Alfin untuk melanjutkan perjalanan saat terang tapi Alfin tetap bersikeras untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya kita semua mengikuti kemauan Alfin karena kita takut Alfin melihat sesuatu yang bisa merugikan kita.

Dengan perasaan bingung kami mengikuti Alfin kembali lagi untuk menemui tanah datar yang kami temui tadi sore. Anehnya sore ini kami berjalan sekitar 7 jam dari tanah datar sampai ke tempat kami membuka tenda, kali ini hanya memakan waktu sekitar 30 menit kami sampai di tempat itu. Kami terus berjalan dari area tanah datar dan kemudian kembali turun ke hutan tapi kali ini Alfin menuju ke timur melalui kegelapan.

Saya tidak tahu apa yang telah kita lewati karena sumber cahaya hanya dari senter yang ada di tangan Alfin sampai sekitar 2 jam perjalanan kita telah keluar dari hutan dan lampu yang terlihat dari penghuni rumah sekitar dari kejauhan. Sampai bertemu dengan ladang warga. Irma juga mengenal daerah yang tidak jauh dari desanya. Akhirnya Irma mengambil alih posisi terdepan untuk menggantikan Alfin.

Akhirnya kami sampai di Cerita Mistis Tersesat Di Gunung Ciremai rumah Irma sekitar pukul 1.30. Kami segera sujud di depan rumah Irma dan saya bertanya kepada Alfin dari mana dia tahu jalan pulangnya. Alfin mengatakan kepada saya ketika kami memutuskan untuk pergi tidur, seorang kakek datang dan berkata jika kami ingin keluar dari hutan kami harus segera mengikutinya. Dan kami mulai bercerita tentang apa yang kami alami di Gunung Ciremai.

Ternyata sejak awal pendakian saat memasuki kawasan hutan pinus, Alfin sudah merasa disusul oleh neneknya. Berbeda dengan Irma yang kerap melihat sosok hitam besar dengan mata merah saat hilang di hutan, hanya Hendra yang mengaku tidak melihat apapun. Tapi kami tidak percaya karena dia seperti menutupi sesuatu.

Cerita Mistis Tersesat Di Gunung Ciremai Akhirnya Irma membangunkan ibunya yang sedang tidur dan segera memeluk ibunya erat-erat dan mengatakan bahwa kami baru saja tersesat di Gunung Ciremai. Ibu Irma segera mencaci maki kita semua dia mengatakan bahwa penduduk desanya tidak ada yang berani mendaki Gunung Ciremai kecuali mencari ilmu tertentu.

Kami bersyukur bisa kembali dengan selamat dan tidak akan sembarangan lagi mendaki gunung secara ilegal.

Facebook Comments
Share Button