CROWN-NEW-527x65 SARANA-728x90 simpatiqq mwtoto asuspoker ASIK77

Kisah Mistis di Balik Munculnya 7 Buaya Nusakambangan

Kisah Mistis di Balik Munculnya 7 Buaya Nusakambangan – Kemunculan buaya Nusakambangan belum lama menyita atensi publik. Alasannya, di kawasan ini tidak sempat sekali juga ditemukan hewan purba sepanjang belasan tahun. saranacash

Spekulasi juga tersebar. Sebagian menebak buaya itu bermigrasi ke kawasan ini dari suatu tempat. Dapat dari daerah Kebumen ataupun Cilacap timur, ataupun dari Pangandaran. Casino Online

Sebabnya, saat sebelum timbul buaya Nusakambangan, di 2 tempat ini ditemukan timbulnya buaya, dengan dimensi yang nyaris sama. Buaya Tepi laut Widarapayung dilaporkan terlihat pada Maret 2019, ada pula di Pangandaran, pada akhir April, ataupun dekat 3 minggu saat sebelum penampakan buaya di Nusakambangan.

Data yang tersebar, terdapat 7 buaya di dekat perairan Nusakambangan yang nampak. Anggota Warga Mitra Polisi Hutan( MMP) Nusakambangan memberi tahu terdapat penampakan 7 buaya di sisi barat Pulau Nusakambangan, ialah daerah Laguna Segara Anakan ataupun Kampung Laut.

Namun, penampakan 7 buaya Nusakambangan itu belum terkonfirmasi kebenarannya. Sangat spekulatif buat mempercayai suatu data cuma dari laporan lisan tanpa didukung informasi, misalnya gambar ataupun video.

Walaupun begitu, tidak pelak data timbulnya 7 buaya Nusakambangan ini juga menimbulkan dugaan baru. Buaya- buaya itu dilepas oleh pemiliknya, ataupun lepas dari penangkaran. Cuma saja, tidak terdapat penangkaran buaya yang dekat- dekat kawasan ini.

” Jika yang 7 buaya belum terkonfirmasi. Kami fokus kepada buaya yang memanglah betul- betul telah terdapat. Telah terlihat diiringi dengan bukti- bukti,” ucap Koordinator Polisi Hutan BKSDA daerah Konservasi Resor Cilacap, Endi Suryo Heksianto, Selasa( 14/ 5/ 2019).

Terlepas dari asal muasal buaya Nusakambangan, menilik ekosistem dekat Nusakambangan, sesungguhnya kemunculan buaya bukanlah aneh. Paling utama, untuk masyarakat di kawasan Kampung Laut, yang begitu memahami Laguna Segara Anakan.

Cerita 5 Buaya Raib dari Laguna Segara Anakan

Kisah Mistis di Balik Munculnya 7 Buaya Nusakambangan – Kawasan ini memanglah jadi habitat buaya. Hutan mangrove ataupun bakau dengan ekosistem air payaunya memanglah jadi habitat yang sempurna buat perkembangbiakan buaya.

Terlebih, pada masa saat sebelum kehancuran ekosistem, Laguna Segara Anakan mempunyai kawasan sangat luas, kisaran 6. 000 hektare lebih. Kegiatan manusia juga tidak seramai dikala ini. Daratan berlumpur, air payau serta hutan bakaunya jadi rumah raja air payau ini.

Makanya, terdapat suatu tikungan sungai payau di Laguna Segara Anakan yang diberi nama, Tikungan Buaya. Berdasar cerita turun temurun, di mari lah, buaya- buaya itu tinggal.

Nun pada tahun 1999, ataupun 20 tahun kemudian, 6 ekor buaya ditemukan di kawasan laguna. Satu di antara lain, terjerat jaring nelayan. Mati.

” Salah satunya masuk jaring, mati. Terus batire ilang. Lah, saiki nongol maning.( Salah satu buaya masuk ke jaring, mati. Terus temannya lenyap. Lah saat ini nampak lagi),” ucap Kustoro, masyarakat Ujung Alang Kecamatan Kampung Laut, Cilacap.

Kustoro menceritakan, terdapat suatu cerita konflik manusia serta buaya yang dikisahkan secara turun temurun. Ini merupakan cerita Candra Pangin, tokoh masa kemudian yang dipercaya merupakan kakek buyut masyarakat Kampung Laut.

Cerita itu berlatar pada masa dini Laguna Segara Anakan jadi tempat tinggal manusia, kala sampan- sampan kayu serta rumah panggung baru terbangun di pinggiran laguna.

Candra Pangin serta Cerita Mistis Luhur alias Buaya

Kisah Mistis di Balik Munculnya 7 Buaya Nusakambangan – Syahdan, Candra Pangin berseteru dengan kerabat seperguruannya yang bersama berasal dari daerah Mataram. Keduanya mempunyai guru yang sama, di lereng Gunung Lawu.

Candra Pangin difitnah, diadu domba dengan si guru. Si guru lalu marah serta mengantarkan tepes, ataupun kulit kelapa ke kerabat seperguruan Candra Pangin.

Sesampai di Laguna Segara Anakan ataupun Kampung Laut, tepes itu diletakkan ke atas air. Sehabis dilepas ke air, tiba- tiba tepes berganti jadi buaya.

” Tidak lama dari itu kakek buyutku dikabarkan lenyap diterkam buaya,” Kustoro menerangkan.

Kustoro memperkirakan kejadian itu terjalin kisaran tahun 1840- an. Semenjak dikala itu, masyarakat Kampung Laut menyebut nama buaya ataupun baya dengan istilah yang berkelindan dengan hawa segan ataupun hormat, ialah Luhur.

Luhur, dalam budaya Jawa dapat dimaksud selaku roh ataupun kekuatan tidak kasat mata. Luhur, biasa pula dimaksud selaku nenek moyang, leluhur. Penyebutan buaya selaku Luhur merupakan bentuk penghormatan warga Kampung Laut kepada buaya.

” Umumnya di mari menyebut buaya itu, Luhur, leluhur. Tetapi keyakinan yang hingga berdampak kepada pergantian budaya serta tingkah laku warga sih kelihatannya tidak terdapat,” Kustoro menarangkan.

Terlepas benar tidaknya cerita berbalut aroma mistis ini, masyarakat Kampung Laut masa kemudian begitu akrab dengan keberadaan buaya Nusakambangan. Buaya jadi raja di Laguna Segara Anakan, jauh hari saat sebelum umat manusia tinggal di kawasan ini.

Butuh harmoni serta keselarasan supaya tidak terjalin konflik yang dapat merangsang korban jiwa di kedua belah pihak, baik manusia ataupun buaya. Sebab, alam diciptakan bukan buat dipahami, melainkan silih berbagi.

Kisah Mistis di Balik Munculnya 7 Buaya Nusakambangan

Facebook Comments
Share Button