CROWN-NEW-527x65 SARANA-728x90 simpatiqq mwtoto asuspoker

Kisah Mistis Murka Nyai Sudem di Lereng Gunung Slamet

Kisah Mistis Murka Nyai Sudem di Lereng Gunung Slamet – Cerita beraroma mistis ini sesungguhnya terjalin 3 tahun dulu sekali, tepatnya 7 Oktober 2017, pas Sabtu Kliwon. Kala warga di dekat Curug Cipendok, yang terletak di lereng Gunung Slamet, menggelar ritual Grebeg Sura yang tidak biasa. situs slot

Grebeg Sura tidak biasa lantaran air Curug Cipendok keruh, tidak semacam umumnya bening bak kaca. Waktu itu, Grebeg Sura betul- betul Suram. Casino Online

Kisah Mistis Murka Nyai Sudem di Lereng Gunung Slamet – Cerita ini masih relevan sampai dikala ini, lantaran Curug Cipendok terkadang pula masih keruh dikala terjalin hujan rimbun di daerah hulu. Pangkal jelas, eksplorasi dalam pembangkit listrik tenaga panas bumi( PLTP) di lereng Gunung Slamet.

Larung sesaji yang didahului prosesi teatrikal” Wuru Banyu Butek” serta ritual” Caos Atur Ganda Wangi” itu berlangsung muram. Tebersit duka mendalam kuncen serta masyarakat yang menjajaki prosesi ini.

Musababnya, Curug Cipendok tidak lagi suci. Curug Cipendok sudah direnggut keperawanannya. Air yang sepanjang ribuan tahun mengalir jernih, saat ini keruh.

Betul- betul keruh sehingga lumpurnya mengotori batu serta tetumbuhan. Percikan air serta kabut air terjun setinggi 93 m itu tidak lagi melukiskan pelangi seperti waktu yang sudah- sudah.

Tiba- tiba, kabut hitam mendekat kala rangkaian kegiatan Grebeg Suran Curug Cipendok, di lereng Gunung Slamet, diawali. Kabut- kabut itu bergelayut di pohon- pohon pakis serta mahoni yang bertumbuhan di kawasan Curug Cipendok.

Ekspedisi larung sesaji itu mesti melewati jalur bebatuan sejauh 700- an m. Dari jarak ratusan m, angin kokoh yang dihasilkan ribuan kubik air terjun itu terasa menghantam badan. Seakan, ini merupakan murka Nyi Sudem, penghuni Curug Cipendok.

” Dari tadi tidak kabut. Seketika terdapat kabut. Tanda- tanda apa ini? Itu yang wajib dicari jawabnya,” ucap Titut Edi Purwanto, seniman Banyumas yang tinggal di kawasan lereng Gunung Slamet, kala itu.

Pelangi Malam Hari di Lereng Gunung Slamet

Kisah Mistis Murka Nyai Sudem di Lereng Gunung Slamet – Nyai Sudem, yang bernama kehormatan Dewi Intan, merujuk pada curug berair bening laksana jutaan permata itu, pasti bersedih. Air yang bisanya dapat buat bercermin, seketika buram. Lumpur menimbulkan mata air Curug Cipendok pekat.

Titut mengisahkan, akibat eksplorasi pada proyek PLTP di Gunung Slamet itu membuat Dewi Intan pernah mengungsi. Dia juga meniti pelangi ke Halaman Kuwung, sebelah barat energi Curug Cipendok.

Jaraknya lebih dari 5 km. Di tempat itu, Dewi Intan meratapi nasibnya.

” Dewi Intan menangis sebab alam dirusak. Kebayanya belepotan oleh lumpur,” ucap Titut, di peluang terpisah, menggambarkan penglihatan mata batinnya.

Tangisan Dewi Intan ataupun Nyi Sudem itu merupakan tanda- tanda kalau akibat PLTP tidak cuma dialami manusia. Apalagi, makhluk- makhluk tidak kasatmata juga terdampak, dengan triknya.

” Wisatawan di Karang Panginyongan kerap memandang terdapat pelangi di malam hari,” ucap pengelola Halaman Karang Panginyongan itu.

Dia berkata pelangi itu ujungnya terletak di Curug Cipendok serta berakhir di Halaman Kuwung. Dari penglihatan batinnya, dia memandang peri penjaga curug mengungsi ke Halaman Kuwung.

Ritual Banyu Suci Handayani di Kaki Gunung Slamet

” Dia menangis pilu. Tempatnya saat ini telah tidak aman lagi buat ditempati. Nyi Sudem lagi mengungsi,” kata ia.

Tangisan Nyi Sudem ialah perlambang tangisan alam yang saat ini lagi dirusak. Pembabatan hutan serta pengeprasan bukit membuat air tidak lagi bening.

Titut juga menggelar ritual Banyu Suci Handayani, dalam peluang terpisah, Maret 2017. Dia bawa kaca serta bubur merah serta putih. Bubur merah ialah perlambang suara bumi, sebaliknya bubur putih ialah perlambang suara langit.

” Pada masa dulu sekali saat sebelum terdapat kaca, manusia berkaca dengan memakai air. Air jadi gambaran sikap baik serta buruknya manusia, bila air telah jadi keruh, hingga manusia telah tidak dapat becermin lagi,” ucap Titut.

Ritual dicoba di mata air Tuk Siluman di sisi barat Curug Cipendok. Tuk ataupun mata air Siluman tersebut banyak digunakan oleh politikus Senayan saat sebelum berlaga dalam pemilihan universal.

Bagi Titut, keruhnya air sungai belasan desa di Banyumas mencerminkan ketamakan manusia dalam menggunakan alamnya.

” Air sungai yang keruh mencerminkan watak tamak manusia yang tidak dapat melindungi mandat Tuhan buat melindungi alam,” ucap ia.

Menjawab proyek pembangunan PLTP di Gunung Slamet yang masih hendak terus bersinambung, Titut mengajak warga buat mempertimbangkannya.

” Seluruh orang perlu listrik, seluruh orang perlu air, tetapi kita wajib memikirkan lebih berarti mana air ataupun listrik buat kehidupan kita?” Titut mengatakan.

Kisah Mistis Murka Nyai Sudem di Lereng Gunung Slamet

Facebook Comments
Share Button